Jumat, 19 Oktober 2012

METODE PENGAJARAN NAHWU


THARAIQ TADRIS AL-LUGHAH AL-ARABIYAH -2
Tentang
“ Metode Pengajaran Nahwu ”
A.      Metode-metode Mengajar Nahwu (tarkib)
Dalam pengajaran nahwu dititikberatkan pada salah satu sarana untuk memperbaiki susunan uslub-uslub bahasa Arab yang merupakan satuan pelajaran yang terdiri dari kaidah-kaidah yang harus diajarkan dan diwajibkan bagi siswa untuk mengetahui dan memahaminya.Demikian pula pelajaran nahwu ini, ditekankan pula penghafalan kaidah-kaidah, dari sini muncul ide-ide untuk mencari metode yang tepat dan handal untuk mengajarkan ilmu nahwu pada anak didik.
Sehubungan dengan hal tersebut, kami akan mengetengahkan metode-metode yang berkaitan dengan pengajaran nahwu.
1.    الطريقة القياسية(Metode Deduktif = Analogi)
Metode al-Qiyas (deduktif) adalah cara mengajarkan nahwu yang terlebih dahulu guru memaparkan kaidah-kaidah kepada anak didiknya kemudian disusul dengan pemberian contoh-contoh dalam bentuk pola kalimat yang diambil dari bahan bacaan. Metode ini termasuk metode yang tertua dalam pengajaran ilmu nahwu. Meskipun metode ini sudah lama tetapi masih dipergunakan dalam pengajaran bahasa Arab dan Departemen Pendidikan di negara Arab. Teknik penyajian metode al-qiyas (deduktif) ada 2 hal yang perlu diperhatikan yaitu :
a.         Pemaparan kaidah-kaidah, yaitu guru menuliskan di papan tulis dengan terang dan jelas kemudian guru membacanya dan diikuti oleh para siswa dan secara berulang-ulang dan akhirnya para siswa dapat menghafalnya dan memahaminya.
b.        Pemaparan contoh-contoh, yakni guru menjelaskan posisi kaidah-kaidah yang terdapat contoh-contoh sehingga siswa dapat memahaminya, kemudian guru mengadakan tanya jawab dengan para siswa, setelah jam pelajaran akan berakhir guru memberikan tugas-tugas kepada para siswa untuk diselesaikan di rumah di luar jam pelajaran yang telah ditentukan, baik dalam bentuk tugas mandiri maupun kelompok.
2.         الطريقة الاستنباطية (Metode induktif)
Metode istinbathiyah disebut juga metode induktif. Metode istinbathiyah adalah metode yang dimulai dengan pemaparan contoh-contoh dengan memperbanyak latihan-latihan, kemudian dilanjutkan sampai kepada generalisasi atau pemaparan kaidah-kaidah yang umum. Metode ini sesuai digunakan kepada tingkat mutaqadimin (tinggi). Adapun pada tingkat mutawasit ataupun pemula, mereka belajar nahwu dengan nash sempurna, membaca dan memperbanyak latihan kemudian diikuti dengan pemahaman kaidah nahwu. (Ali Ahmad madhur, 1991 : 338).[1]
Metode ini mulai dipergunakan di sekolah-sekolah negara Arab ketika delegasi Arab dari Eropa kembali ke negara mereka pada awal abad ke XX. Metode penyajian metode Istinbath (induktif) adalah:
a.         Teknik penyajian I: yakni dengan pemaparan contoh-contoh sederhana kemudian kaidah-kaidah. Pemaparan ini disebut juga pemaparan contoh-contoh yang bervariasi atau contoh yang beragam, cara pemaparan contoh yang berlainan disebabkan karena terkadang contoh-contoh yang dipaparkan sangat bervariasi dan tidak ada kaitannya dengan contoh yang lain.
b.        Teknik II: yaitu metode pemaparan teks (nash) kemudian contoh-contoh disusul dengan kaidah-kaidah nahwu.
baca lanjutannya......

Penerapan metode induktif ( الطريقة الاستنباطية ) dalam pembelajaran di kelas antara lain sebagai berikut:
1)      Guru menerangkan dan menjelaskan teks-teks bacaan tersebut dan mengeluarkan contoh-contoh yang difokuskan pada materi nahwu dan menjelaskan kaidah-kaidah yang terdapat dalam bacaan tersebut.
2)      Hendaknya para siswa banyak mengajukan pertanyaan pada guru agar dapat menyelesaikan teks-teks bacaan yang ada.
3.        الطريقة القواعد و الثرجمة (Metode kaidah dan terjemah)
Metode kaidah dan terjemah ini ditekankan pada penghafalan dan pemahaman kaidah nahwu dan juga penrjemahan. Metode ini bersifat umum karena bisa digunakan untuk mengajarkan bahasa yang lain bukan hanya bahasa Arab. Dalam metode ini, siswa diharapkan mampu memahami suatu teks atau wacana dengan menelaah isi dan kaidah yang terkandung dalam wacana tersebut. Untuk mengaplikasikan metode kaidah dan terjemah dalam pengajaran bahasa asing, dalam hal ini bahasa Arab, kita perlu melihat konsep dasar metode ini. Sebagaimana yang kita ketahui bahwasanya ada dua aspek penting dalam metode kaidah dan terjemah : pertama, kemampuan menguasai kaidah tata bahasa; dan kedua, kemampuan menerjemahkan. Dua kemampuan ini adalah modal dasar untuk mentrabsder ide atau pikiran ke dalam tulisan dalam bahasa asing (mengarang), dan modal dasar untuk memahami ide atau pikiran yang dikandung tulisan dalam bahasa asing yang dipelajari (membaca pemahaman).
            Contoh penerapan metode ini dalam pengajaran nahwu adalah sebagai berikut :
1.      Pendahuluan, memuat berbagai hal yang berkaitan dengan materi yang akan disajikan baik berupa appersepsi, atau tes tentang materi, atau yang lainnya.
2.      Guru memberikan pengenalan dan definisi kaidah-kaidah tertentu dalam bahasa arab yang harus dihafalkan sesuai dengan materi yang akan disajikan, berikut terjemahannya dalam bahasa pelajar. Contoh : jika materi yang akan disajikan mengandung kaidah mubtada-khabar, maka langkah yang mungkin dilakukan adalah :
a.       Mengenalkan konsep mubtada-khabar berikut definisi keduanya dan terjemahannya ke dalam bahasa pelajar.
b.      Memberikan contoh-contoh tentang materi mubtada-khabar
c.       Setelah itu guru menjelaskan contoh-contoh tersebut seperlunya, misalnya ;
هذا تلميذ ، محمد تلميذ ، هذا قلم ، القلم جديد ،
Dalam hal ini guru menjelaskan bahwa setiap dua kata yang digaris bawahi pada contoh-contoh itu merupakan pasangan mubtada-khabar yang tidak boleh tertukar, kemudian dianalisis sampai I’rabnya.Guru menjelaskan juga bahwa ada kategori mudzakar dan muannats yang masing-masing memiliki aturan tertentu.
d.      Setelah itu, guru membimbing siswa untuk menghafalkan definisinya dengan baik dan benar.
e.       Setelah siswa mampu memahami kaidah nahwu (mubtada dan khabar), guru memberikan sebuah materi teks bahasa Arab, kemudian siswa mengidentifikasi isi teks bahasa Arab tersebut dengan menganalisis mubtada dan khabar dalam wacana tersebut.
f.       Kegiatan akhir adalah guru melakukan evaluasi terhadap pemahaman siswa.[2]



[1]Ali Ahmad madhur.Tadris Fonuun al Lughah al Arabiyah.(Riyadh: darul Shawaf.1991).hal.338
[2]Acep Hermawan.Metodelogi pembelajaran bahasa Arab.(Bandung:Rosdakarya.2011).Hal. 173

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar